Selamat Berpuasa

Selamat Berpuasa

Menjelang hari yang suci ini kami atas nama keluarga besar WELL PROJECT Management beserta keluarga besar Klinik BIO-E Harapan Indah serta Klinik Keluarga Dokter Irawati mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa… bagi saudara-saudariku umat Islam.

Semoga ibadah ini menjadikan kita semua semakin baik, semakin damai sejahtera sepanjang masa !

Apakah Penderita Alergi/Autis Harus Diit Menghindari Alergen Makanannya ?

Apakah Penderita Alergi/Autis Harus Diit Menghindari Alergen Makanannya ?

Sebelum kita menjawab pertanyaan utama, kita harus menjawab pertanyaan ini terlebih dahulu :

Apakah penderita alergi /  autis melakukan terapi DISENSITISASI Alergen dengan Bicom di BioE setelah hasil tes alerginya diketahui ?

Bila jawabannya

  1. TIDAK  ->  Penderita alergi / autis harus melakukan diit menghindari allergen penyebabnya 100%, ngga boleh bocor sedikitpun. Apapun alasannya … seminggu sekali kan boleh -> NO ! … Cuma sedikit saja utk icip2x -> NO !
  2. YA  ->  dianjurkan tetap menjalankan pola diit yang selama ini sudah dijalankan sebelum tes dan terapi alergi di BioE. Kalau selama ini TIDAK DIIT …ya tetap TIDAK DIIT selama terapi… Kalau selama ini sudah diit misalnya Gluten Free Sugar Free Soya Free atau apapun ..tetap jalankan diit ini 100% sampai terapis BioE mengijinkan utk coba lepas diit.

MENGAPA ?

Pada saat anak melakukan diit ( menghindari ) allergen makanan, tubuhnya akan mulai program self detox dan bila dilakukan 100% menghindari allergen makanan … maka dalam waktu 7 sampai 10 hari tubuhnya akan menjadi sangat SENSITIVE terhadap allergen makanan tsb.

Sehingga bila setelah 7 sampai 10 hari …penderita baik secara sengaja ataupun tidak sengaja mengkonsumsi allergen makanan tsb, walaupun jumlahnya sangat sedikit sekali maka reaksi alergi / timbulnya gejala alergi yang terjadi akan jauh lebih parah dibandingkan pada saat sebelum terapi di BioE. Serangan alergi akut.

Berdasarkan pengalaman di klinik selama bertahun2x, ortu sangat sulit untuk menjalankan diit pada anak alergi / autis tanpa bocor 100% maka biasanya terapis BioE – TIDAK MENGANJURKAN DIIT Menghindari allergen makanan , bagi pasien setelah tes alergi dan pasien berencana melanjutkan ke terapi alergi. Untuk mencegah timbulnya reaksi alergi yang jauh lebih parah.

DIIT menghindari allergen makanan hanya bagi pasien yang tidak melanjutkan terapi disensitisasi alergi di BioE, utk mengurangi , mencegah timbulnya gejala alergi.

Apakah Pasien alergi / autis yang selama ini belum diit menghindari allergen makanan setelah tes alerginya diketahui , boleh melakukan diit menghindari allergen makanan ?

YA – asal dapat dijamin 100% tidak bocor, malahan dari hasil penelitian dikatakan terapi alerginya akan lebih cepat dibandingkan dengan yang tanpa diit menghindari allergen  makanan.

So, pilihan tetap pada Ortu … menjalankan diit atau tidak …..

Biomedical Intervention Therapy (BIT)

Biomedical Intervention Therapy (BIT)

Bagi anda yang tinggal di kota Surabaya dan sekitarnya dan memerlukan informasi Biomedical Intervention Therapy (BIT) bagi anak berkebutuhan khusus ( Autism Spectrum Disorder, Cerebral Palsy, Down Syndrome )  silahkan hadir di acara ini dan bertemu dengan kami.

INFO silahkan hubungi :

H. Muhammad 031-7349834 / 0812 3344 2304 atau Araya 031-5952372 / 0812 1732 9086

 

Sembuhkan Alergi dengan Teori Fisika Kuantum

Sembuhkan Alergi dengan Teori Fisika Kuantum

Penyakit alergi tak melulu disembuhkan dengan obat ataupun suntikan. Belakangan, alergi juga bisa disembuhkan dengan sebuah teknologi mesin. Metode ini disebut dengan terapi bioresonansi yang mampu menyembuhkan alergi dengan frekuensi gelombang elektromagnetik. Tingkat keberhasilannya mencapai 80 persen.

ALAT yang digunakan dalam terapi bioresonansi disebut BICOM (Bio Communication) 2000. Alat ini ditemukan oleh Hans Brugemann dari Jerman sekitar tahun 1976, dan dipopulerkan oleh Dr Peter Schumacher untuk menyembuhkan berbagai gangguan kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan alergi.

Cara menggunakannya cukup sederhana. Pada proses deteksi dan penyembuhan alergi, pasien duduk di kursi atau berbaring di dekat BICOM 2000. Dari alat tersebut, menjulur kabel yang dihubungkan ke elektroda berupa bola yang dipegang pasien. Dan di bantalan tempat duduk atau pembaringan pasien, terdapat kabel lain yang terhubung ke mesin tersebut.
Selanjutnya, frekuensi gelombang alergen akan ditangkap oleh BICOM 2000. Seperti bayangan cermin, gelombang ini dibalik dan menghasilkan pola gelombang yang berguna menyembuhkan alergi.
“Setelah terapis memasukkan program penyembuhan yang akan dilakukan dan menekan tombol start, maka proses penyembuhan pun berjalan. Setelah selesai, mesin akan mati dengan sendirinya. Lamanya waktu terapi berkisar antara 15-30 menit,” kata dr Erica Lukman, SpTHT-KL,MQIH yang mempraktikkan terapi ini di kliniknya, Panacea Clinic Balikpapan.
Menurut dr Erica, penyembuhan alergi dengan terapi bioresonansi ini tidak menimbulkan rasa sakit. Karena proses penyembuhannya dilakukan tanpa pemberian obat-obatan dan suntikan. Disamping itu, terapi bioresonansi juga dapat dilakukan oleh semua usia, bahkan terhadap bayi sekalipun.
“Umumnya, pengobatan medis menggunakan pendekatan ilmu biologi. Sedangkan terapi bioresonansi adalah pengobatan yang menggunakan pendekatan ilmu fisika kuantum, yaitu ilmu fisika yang berdasarkan pada teori Einstein,” ucap dr Erica.
Secara singkat, terang Erica, teori dalam fisika kuantum yang mendasari terapi ini adalah, bahwa sebenarnya setiap sel dalam tubuh kita selalu berkomunikasi satu sama lain pada frekuensi tertentu. Jika komunikasi tersebut berjalan harmonis, berarti orang itu berada dalam kondisi sehat. Namun jika toksin atau benda tertentu yang bisa menyebabkan alergi masuk ke tubuh, maka pola frekuensinya akan terganggu dan menyebabkan terganggunya fungsi organ tubuh. “Satu-satunya di Kalimantan yang menggunakan terapi bioresonansi adalah Panacea Clinic.
Tapi sebelum dilakukan terapi bioresonansi, pasien yang terserang alergi harus dideteksi dengan menggunakan sebuah alat yang disebut tensor,” tandas Erica.