Sembuhkan Alergi dengan Teori Fisika Kuantum

Sembuhkan Alergi dengan Teori Fisika Kuantum

Penyakit alergi tak melulu disembuhkan dengan obat ataupun suntikan. Belakangan, alergi juga bisa disembuhkan dengan sebuah teknologi mesin. Metode ini disebut dengan terapi bioresonansi yang mampu menyembuhkan alergi dengan frekuensi gelombang elektromagnetik. Tingkat keberhasilannya mencapai 80 persen.

ALAT yang digunakan dalam terapi bioresonansi disebut BICOM (Bio Communication) 2000. Alat ini ditemukan oleh Hans Brugemann dari Jerman sekitar tahun 1976, dan dipopulerkan oleh Dr Peter Schumacher untuk menyembuhkan berbagai gangguan kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan alergi.

Cara menggunakannya cukup sederhana. Pada proses deteksi dan penyembuhan alergi, pasien duduk di kursi atau berbaring di dekat BICOM 2000. Dari alat tersebut, menjulur kabel yang dihubungkan ke elektroda berupa bola yang dipegang pasien. Dan di bantalan tempat duduk atau pembaringan pasien, terdapat kabel lain yang terhubung ke mesin tersebut.
Selanjutnya, frekuensi gelombang alergen akan ditangkap oleh BICOM 2000. Seperti bayangan cermin, gelombang ini dibalik dan menghasilkan pola gelombang yang berguna menyembuhkan alergi.
“Setelah terapis memasukkan program penyembuhan yang akan dilakukan dan menekan tombol start, maka proses penyembuhan pun berjalan. Setelah selesai, mesin akan mati dengan sendirinya. Lamanya waktu terapi berkisar antara 15-30 menit,” kata dr Erica Lukman, SpTHT-KL,MQIH yang mempraktikkan terapi ini di kliniknya, Panacea Clinic Balikpapan.
Menurut dr Erica, penyembuhan alergi dengan terapi bioresonansi ini tidak menimbulkan rasa sakit. Karena proses penyembuhannya dilakukan tanpa pemberian obat-obatan dan suntikan. Disamping itu, terapi bioresonansi juga dapat dilakukan oleh semua usia, bahkan terhadap bayi sekalipun.
“Umumnya, pengobatan medis menggunakan pendekatan ilmu biologi. Sedangkan terapi bioresonansi adalah pengobatan yang menggunakan pendekatan ilmu fisika kuantum, yaitu ilmu fisika yang berdasarkan pada teori Einstein,” ucap dr Erica.
Secara singkat, terang Erica, teori dalam fisika kuantum yang mendasari terapi ini adalah, bahwa sebenarnya setiap sel dalam tubuh kita selalu berkomunikasi satu sama lain pada frekuensi tertentu. Jika komunikasi tersebut berjalan harmonis, berarti orang itu berada dalam kondisi sehat. Namun jika toksin atau benda tertentu yang bisa menyebabkan alergi masuk ke tubuh, maka pola frekuensinya akan terganggu dan menyebabkan terganggunya fungsi organ tubuh. “Satu-satunya di Kalimantan yang menggunakan terapi bioresonansi adalah Panacea Clinic.
Tapi sebelum dilakukan terapi bioresonansi, pasien yang terserang alergi harus dideteksi dengan menggunakan sebuah alat yang disebut tensor,” tandas Erica.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *